May 13, 2021

Tolak Disebut Investasi Bodong, Indosterling Ucap Covid-19 Biang Keladinya

Tolak Disebut Investasi Bodong, Indosterling Ucap Covid-19 Biang Keladinya

Jakarta, Akuratnews. com – Disebut problematis gagal bayar investasi oleh para nasabahnya, Indosterling Optima Investa (IOI) akhirnya angkat bicara.

Untuk diketahui, perkara ini dikenal sebagai gagal bayar bagi produk Indosterling High Yield Promissory Notes (HYPN). Produk investasi ini menjanjikan imbal hasil 9 hingga 12 persen setiap tahunnya.

Kuasa hukum Indosterling Optima Investa, Hardodi mengungkapkan, kasus ini terjadi ini karena beberapa faktor. Lupa satunya lantaran pandemi Covid-19.

“Jadi perusahaan kami tidak investasi bodong, lantaran faktor pandemi Covid-19 ini yang menyebabkan saya gagal bayar nasabah, ” ujar Hardodi di Jakarta, Senin (16/11).

Ia pun membuktikan IOI sejak April 2020 berangkat menyelesaikan kewajiban pembayaran para nasabah termasuk dalam skema Penundaan Urusan Pembayaran Utang (PKPU).

“Akan tetapi memang ada keterlambatan per April 2020 karena pengaruh Covid-19 dan hampir semua perusahaan saya rasa merasakan dampak yang sama, ” ungkap Hardodi lagi.

Dikatakannya, ada 4 kelompok skema pembayaran PKPU. Grup pertama dari Rp1 juta-Rp500 juta selama empat tahun. Kelompok kedua, dari Rp500 juta-Rp1 miliar selama lima tahun. Kelompok ketiga & keempat selama tujuh tahun.

“Jadi memang selama 4 sampai tujuh tahun, ” tambahan Hardodi.

Kuasa hukum Indosterling Optima Investa, Hardodi

Terpaut penetapan status tersangka Direktur Sari PT Indosterling Optima Investa (IOI), Sean William Henley, Hardodi menganjurkan sepenuhnya kepada pihak Bareskrim Polri.

“Kami mengikuti metode hukum yang berjalan. Tapi kehormatan tersangka ini belum memutuskan klien kami bersalah. Nanti pengadilan yang membuktikan, ” ujarnya.

Sebelumnya, puluhan nasabah PT Indosterling Optima Investa (IOI) gigit jari lantaran Investasi yang seharusnya redup pada April 2020 ternyata tak kunjung cair.

Andreas, kuasa hukum sejumlah nasabah IOI menyebut, sejumlah nasabah memilih carik pidana dengan melapor ke Bareskrim Polri sejak 6 Juli 2020. Ada tiga pihak yang dilaporkan yakni PT IOI, SWH (Sean William Hanley) selaku direktur serta JBP (Juli Berliana Posman) demi komisaris.

“PKPU sudah putus, Tecuma klien aku itu tidak ikut di PKPU-nya. mereka lebih memilih jalur pidana, ” kata Andreas.

Dikatakannya, para nasabah itu berharap uangnya bisa balik 100 persen. Namun jika tidak balik 100 persen minimal Indostreling memberikan uang di depan.

“Jadi para nasabah ini ingin apabila uangnya tidak balik 100 persen, minimal harus ada pengembalian uang di depan, ” perkataan Andreas.