May 13, 2021

Risih Jadi Tontonan, Warga Baduy Menimbulkan Dihapus Dari Destinasi Wisata

Risih Jadi Tontonan, Warga Baduy Menimbulkan Dihapus Dari Destinasi Wisata

Lebak, Akuratnews. com – Kabar kalau Lembaga Adat Baduy yang meminta wilayahnya dihapus dari peta destinasi wisata mendadak viral.

Permintaan ini dilayangkan lewat surat yang dikirim melalui perwakilannya pada 6 Juli 2020 dan ditujukan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Selain kepada Presiden, Tulisan tersebut juga dikirimkan ke Gubernur Banten, Bupati Lebak, dan sebanyak kementerian terkait.

Surat tersebut disahkan di dalam 6 Juli di salah satu rumah Jaro Lembaga Adat Baduy. Ada tiga Jaro yang mencantumkan cap jempol, yakni Jaro Saidi sebagai Tangunggan Jaro 12, Jaro Aja sebagai Jaro Dangka Cipati, dan Jaro Madali sebagai Was-was Jaro 7.

Sementara pihak yang diberi mandat untuk mengirimkan surat ke Presiden Jokowi yaitu Heru Nugroho, Henri Nurcahyo, Anton Nugroho, dan Fajar Yugaswara.

Heru Nugroho yang ditunjuk oleh Lembaga Adat Baduy bercerita, wacana penghapusan kawasan Baduy dalam destinasi wisata muncul pada 16 April 2020.

Saat itu, menurut Heru, Jaro Alim memintanya untuk mengaduk-aduk solusi permasalahan yang muncul pada Baduy, antara lain kunjungan wisatawan yang dianggap berlebihan.

Ia menyebut kunjungan wisatawan membuat masalah baru, salah satunya adalah banyaknya sampah serta tersebarnya foto-foto wilayah Baduy Di dalam di internet.

Padahal, kawasan Baduy Di dalam adalah kawasan yang sakral dan pendatang dilarang untuk mengambil foto.

“Pada tanggal 16, Jaro Alim meluluskan amanah ke saya, barangkali bisa membantu mencarikan solusi terhadap persoalan-persoalan yang ada. Saat itu kami sepakat, sebaiknya Baduy dihapus dibanding peta wisata nasional, ” sekapur Heru, Selasa (7/7).

Lembaga Adat Baduy pun mengesahkan surat permintaan destinasi wisata Baduy dihapus, Sabtu (4/7).

Awak Baduy juga mengaku risih sebab menjadi tontonan wisatawan yang pegari.

“Membanjirnya wisatawan yang tujuannya nggak terang, cuma nontonin orang Baduy, sesungguhnya membuat mereka risih. Belum teristimewa masalah sampah dan lain-lain, ” kata Heru.

Sementara itu, Jaro Saija yang juga menjabat sebagai Lurah Kanekes mengatakan, ia baru mengetahui surat tersebut setelah membaca pemberitahuan di media pada Senin (6/7).

“Saya tidak tahu, tidak diberitahu jika ada pertemuan seperti itu. Saat ini lagi mencari tahu siapa yang kirim surat tersebut, ” kata Saija.

Menurut dia, saat ini kawasan Baduy memang ditutup daripada kunjungan wisatawan. Namun, penutupan itu hanya sementara pada saat pandemi Covid-19. Saija memastikan bahwa penutupan kawasan tersebut tidak permanen.

Menanggapi seruan tersebut, Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya mengatakan, belum ada pemberitahuan resmi dan koordinasi dari arsitek Baduy kepada dirinya.

Iti mengatakan, pihaknya mengetahui permintaan tersebut baru dibanding media sosial.

“Kami baru mendengar keluhan dari medsos, biasanya langsung disampaikan ke saya. Tapi, ini nggak ada komunikasi, belum dipastikan itu resmi dari Puun (pimpinan sempurna adat Baduy), ” kata Iti di kantor Bupati Lebak, Selasa (7/7).

Saat ini, pihaknya telah menodong Dinas Pariwisata untuk memastikan informasi tersebut dan berkomunikasi langsung dengan tokoh adat Baduy.

Menurut dia, masalah dengan dikeluhkan warga Baduy yang terekam di surat masih bisa dimusyawarahkan.

“Mungkin nanti perlu diperketat, misalnya tamu harus membawa kantong sampah sendiri dan ada maklumat untuk tak membawa sampah plastik, ” sekapur Iti.

Iti menambahkan, pihaknya masih belum bisa mengambil keputusan karena kudu berkomunikasi dengan tokoh Baduy dalam Cibeo, Cikeusik dan Cikartawana.

“Kebijakan kami mengikuti apa yang disampaikan oleh Puun, semua bisa dikomunikasikan. Oleh karena itu, saat ini kami belum bisa mengambil kebijakan seperti apa sebelum komunikasi dengan Puun, ” kata Iti.