September 21, 2021

Pertarakan, Langkah Awal Memulihkan Perekonomian

AKURATNEWS – Bulan Ramadhan memberikan pembelajaran kalau kehidupan harus ditekuni dengan kejujuran, kebersahajaan dan adat (tidak serakah), nir persepsi, serta nafsu yang harus dikendalikan.

Harus jujur karena puasa bulan Ramadhan adalah untuk Maha Pencipta sementara ibadah yang lainnya untuk pelakunya. Ialah tidak mungkin disebut berpuasa jika tidak jujur. Selalu pengendalian rasa, ucapan & tindakan.

Pengendalian tiga hal ini membuahkan sirnanya kebanggaan saat berbuka, semewah apapun hidangannya. Tidak juga menunjukkan ketangguhan masa sahur, sekuat apapun tubuh menikmati konsumsi makanan.

Justru patut membuktikan keteguhan bersikap untuk tidak makan, minum, berhubungan erat dengan pasangan sah & sabar menahan amarah semenjak Subuh hingga Maghrib.

Secara makro, peristiwa itu mempengaruhi perilaku ekonomi. Mereka yang bertransaksi kudu jujur menyampaikan besarnya imbalan dan tingkat keuntungan dengan hendak dicapai. Uang biar dihargai tidak melampui biji keahlian menghasilkan barang ataupun jasa.

Wujudnya antara lain adalah pinjaman tanpa bunga (nir riba’) tapi bagi hasil dan bagi risiko. Sumberdaya pribadi tidak boleh dieksploitasi segera hukum keseimbangan penawaran serta permintaan pasar tenaga kegiatan.

Dalam kebersahajaan dan kepatutan sebagai tindak nyata tidak serakah, keuntungan yang diraih merupakan nilai wajar, bukan mengambil kebaikan atas kesempatan dalam kesempitan.

Kewajaran itu dilaksanakan dengan pola transaksi yang ihlas karena   kejujuran. Juga tidak ada persepsi apapun kecuali kenyataan atas barang dan uang (alat ukar) yang pertukarannya mengharapkan keridlo’an Allah swt.

Keuntungan besar bukanlah pembimbing perilaku berbisnis karena keuntungan harus meluluskan manfaat bukan hanya di dalam mereka yang langsung bertransaksi, tapi juga kepada pihak ketiga sebagai upaya menyalahi eksternalitas negatif dan kegagalan pasar.

Pada balik semua ini, dalam dalamnya terkandung bahwa capaian tahta dan harta bukanlah ukuran kemuliaan dan kehormatan melainkan bagaimana penerapan pengetahuan dan iman seseorang pada menegakkan harkat martabat manusia.

Merujuk kejadian di atas, maka semua perilaku transaksi merupakan pengoperasian komitmen bahwa nafsu buruk harus ditundukkan. Perwujudan sensualitas dipersempit. Syahwat keinginan dinihilkan kecuali kebutuhan.

Puasa membedakan dengan kasar mana kebutuhan mana rencana. Disebabkan polanya adalah pembelajaran dan pengajaran menyucikan menemui, kata, tindakan, maka puasa menghantarkan pelakunya untuk mewujudkan neraca atas tiga situasi ini.

Bila lebih banyak negatifnya, oleh karena itu 10 hari terakhir dianjurkan untuk ditekuni dengan optimal sehingga tujuan puasa Ramadhan tercapai, yakni hamba Allah yang memperoleh ampunanNya & hamba Allah yang erat dalam menegakkan ajaranNya.

Dalam perspektif lainnya, puasa Ramadhan merupakan pelaksanaan konsepsi modal sosial. Unsur-unsurya adalah nilai-nilai, komitmen yang dilaksanakan dengan proaktif, moral guna terbangunnya hubungan sosial saling percaya, membangun jejaring sosial (silaturahim langsung), serta kepemimpinan.

Dalam lingkup silaturahim, berbagi nafkah saat berbuka atau dahar sahur, sholat berjama’ah Isya dan Subuh serta tarawih di masjid adalah sarana saling berbagi, peduli, & menghargai.

Sebab setiap orang adalah pemimpin, minimal kepemimpinan atas dirinya, maka silaturahim itu menumbuh kembangkan sikap kebersamaan dan ketahanan sosial.

Itu karenanya mustahil jika masjid sebagai tempat paling mulia di muka dunia justru menjadi sumber penyebaran virus selama masjid dipelihara dan dipelihara secara bersih dan nyaman.

Dilihat secara mikro, model konsumsi sebenarnya hanya kecil berubah karena pergeseran periode makan dari siang menjelma malam. Tetapi pergeseran tersebut ternyata mengubah volume & jenis makanan yang dikonsumsi, termasuk air minum.

Hampir semua tempat berbuka membutuhkan makanan pembatal puasa saat adzan Maghrib bergema. Permintaan air kelapa dan minuman manis naik. Kebutuhan inilah yang membakar permintaan akan barang-barang penggunaan meningkat.

Salah satunya adalah kurma dengan ragam jenis dan kualitasnya. Hingga akhir Maret menjelang bulan Ramadhan, impor kurma mencapai USD17, 1 juta atau sekitar Rp250 milyar, meningkat nyaris 50 upah.

Permintaan nasi pun meningkat. Sayangnya terjadi pemborosan saat kita tahu sampah nasi di restoran padang atau restoran sunda. Berapa besarnya? Ada riset lama sementara riset mutakhir tentang pembuangan nasi tersebut belum muncul ke latar.

Paling tak, permintaan tiga hal keinginan pokok itu menggambarkan meningkatnya konsumsi masyarakat sebagai kebahagiaan rezeki juga bagi semua kalangan di tengah kemerosotan ekonomi merasuk ke semua sektor, kecuali farmasi dan teknologi informasi dan hubungan.

Bayangkan, kalau tanpa bulan puasa serta Ramadhan kemungkinan konsumsi klub berpotensi terkontraksi lebih sejak 2, 23 persen sebagaimana data yang diumumkan Bank Indonesia pada 5 Mei 2021. Ini menunjukkan dalam tengah daya beli asosiasi yang terpukul karena pandemik, masih ada kekuatan masyarakat untuk bertahan.

Saya bermimpi lahirnya kebijaksanaan pemerintah yang produktif & membangun kepercayaan dan kerjasama masyarakat. Akibatnya konsumsi rumah tangga berpotensi lebih baik berbenturan dengan konsumsi perusahaan & konsumsi pemerintah yang meningkat.

Hasilnya ialah lebih cepat pulihnya perekonomian nasional karena permintaan privat, dan Indonesia tidak menyandarkan diri pada pembiayaan eksternal seperti utang luar daerah dan ekspor komoditas bahan mentah.

Pertarakan Ramadhan sebenarnya membuka berkepanjangan untuk menumbuh kembangkan sedang kerjasama sosial, politik, serta ekonomi. Tapi peluang tersebut tidak diambil sehingga daya ekonomi yang lahir sejak aktivitas Ramadhan dan Idul Fitri tidak berubah menjadi kekuatan bersama untuk jaga.

Sekuat apapun keuangan pemerintah dan korporasi, hasilnya tidak akan optimal sepanjang (1) ketidak-jujuran, (2) keserakahan (yang diwujudkan secara egosentris dan arogansi kekuasaan), dan (3) persepsi kepalsuan terus berkembang.

Seperti pernyataan Menkeu Sri Mulyani yang kuatir pembangunan infra struktur menjadi tersia-sia dan kenyataan biaya penyediaan Indonesia yang lebih langka 10 persen dibanding negara tetangga, maka terbukti puasa memang secara naluriah bakal mendorong seseorang untuk berkata jujur.

Jika pada September 2019 Bank Dunia menilai bahwa di Indonesia terjadi lack of credibility, puasa mengajarkan dengan jalan apa menumbuhkan sikap saling membenarkan disebabkan kejujuran dan kemudian lahir kredibilitas. Inilah metode awal memulihkan perekonomian. Wallahu a’lam bissawab. ***