May 13, 2021

Pemikiran Akhir Tahun 2020 “Quo Vadis Advokat Indonesia? ”

Pemikiran Akhir Tahun 2020 “Quo Vadis Advokat Indonesia? ”

Akuratnews. com – Usia Bumi sudah menua, tetapi gairah dan hasrat manusia Sedang belia. Sepanjang tahun 2020, tidak ubahnya Bumi kita seperti ulat yang menjadi kepompong karena adanya Pandemi Covid 19 berdiam muncul agar menjadi pahlawan bagi karakter sekitarnya dan diri sendiri, entah kapan kita berubah wujud menjadi Kupu-kupu yang berwarna indah menari di taman mencium bunga menuju matahari.

Begitu pula halnya Advokat pada Indonesia sebagai salah satu penegak hukum sesuai UU Advokat No 18 tahun 2003, saat itu terlihat seperti kepompong yang masih menata hidupnya untuk terwujud dalam satu lembaga seperti para penegak hukum lainnya, Organisasi Advokat (OA) itu selayaknya seperti mimpi kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu yang indah.

Mengapa serupa itu, karena sepanjang 2020 semua dengan menyatakan sebagai OA yang bertanda Peradi walaupun ada 2 OA yang mempunyai nama panggilan tambahan untuk menjadikan dirinya pembeda membuktikan menata hidupnya dalam kepompong masing-masing, dengan gaya dan metode masing-masing, belum lagi OA yang lain dimana jumlahnya ada yang menuturkan 32 atau bahkan 54.

Mari kita simak balik pada sejarah sekitar 17 tarikh lalu, ada sebagian yang telah Advokat tapi ada yang dinaturalisasi bahkan mendapatkan pemutihan, karena berangkat bergabungnya seluruh lembaga Advokat sebesar 8 menjadi KKAI akhirnya menjadi Peradi. Bergulir selama kurang lebih tahun ke 2 menjelang tarikh ke 3, membelah diri seperti amoeba yaitu KAI, walaupun pernah mendapatkan perlakuan yang berbeda cara dari pemerintah maupun penegak hukum lainnya, hingga sulit untuk ujian ataupun disumpah melalui KAI, namun tetap OA KAI ada, kemudian pada tahun 2012-2014 muncul jalan verifikasi bagi anggota KAI menjelma anggota Peradi.

Betul disayangkan setelah demo pada tarikh 2014 dimana para advokat bergabung menolak RUU advokat di semesta wilayah Indonesia, ternyata pada tahun 2015 perpecahan terjadi di Peradi pada Munas Makasar dan diakui semuanya baik oleh Pemerintah, badan lainnya termasuk masyarakat, bagi para-para advokat yang tidak pernah menonjol di Peradi akhirnya bisa mendapatkan jatah jabatan, bahkan banyak mengeluarkan Advokat baru dan mau tidak mau menambah pundi keuangan untuk berjalannya roda organisasi, karena OA bukan lah lembaga yang isinya adalah pegawai yang mendapat gaji dari uang rakyat melalui negara, akan tetapi Advokat adalah pekerjaan yang mandiri dan independen dan uang nya tentu mencari sendiri tergantung kemampuan dan rejekinya.

Refleksi Akhir Tahun 2020 itu adalah terjadinya beberapa peristiwa pada Organisasi Advokat yang mungkin saja mempunyai nilai, pada tanggal 9 September 2020 riak-riak gelora OA muncul kembali dimana 18 Perbincangan berasal dari DPC Jakarta Barat dibawah pimpinan Luhut Pangaribuan menyatakan kembali ke induknya, Peradi yang berkedudukan di Grand Slipi & pada tanggal 13 Nopember telah mendapatkan KTA dan diakui dengan sah kembali sebagai anggota dan rata-rata semuanya adalah senior sehingga muka baru tapi stock lama, dimana mereka menyatakan mari sepakat karena lebih nyaman seperti dulu lagi, sedangkan di akhir kamar September timbul gerakan adanya OA baru Peradi Pergerakan atau lumrah dengan Peradi Merah, eksodus ke dua dari Peradi di kolong Pimpinan Luhut Pangaribuan selain memperoleh gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas keabsahan atas penetapan Ketua dari Munas lanjutannya.

Sedangkan Peradi dibawah Pimpinan Juniver Girsang sudah jauh-jauh hari Munas bulan Pebruari 2020 lestari kembali ketua nya terpilih Juniver Girsang. Yang menarik, Peradi dengan berkedudukan di Grand Slipi, dibanding Fauzi Hasibuan kembali untuk ketiga kalinya kepada Otto Hasibuan, kejadian tersebut pun tetap ada riak kecil, akan tetapi sebagian gede masih percaya dengan suara 1027 untuk kembali memimpin Peradi. Otto Hasibuan mempunyai misi dan pandangan kembali menyatukan perpecahan dimana telah agak sulit jika melalui pucuk pimpinan dan gayung bersambut dengan 18 Advokat yang berani menyatakan perpindahan nya, karena banyak serupa yanlebih memilih diam-diam pindah karena rasa kenyamanan sebagai bentuk pertemanan, bahkan akhirnya mempunyai beberapa kartu, sehingga harus diseleksi di catatan laporan Mahkamah Agung, Advokat itu terdaftar dimana.

Balik di awal Desember tiba-tiba lahir lagi OA baru DPN Nusantara, yang menjadi pertanyaan besar tersedia lembaga pendidikan menyertainya, yang menjadi pertanyaan besar apakah nanti bakal membuka ujian bagi calon Diskusi. Renungan atas hal tersebut ialah Mengapa begitu berat untuk berbaur dan mengapa begitu mudah membina OA dengan mengantongi Akta pendirian, mengapa pemerintah khususnya dirjen ahu Menkumham, OA yang ada untuk kembali bersatu pasti ada situasi yang mengganjal karena sangat mustahil jika tidak bicara jabatan, kekayaan yang sudah keluar, kedudukan tak mau dibawah dari seseorang, tak mau kehilangan jabatan yang semasa ini mempunyai kekuasaan, alhasil seluruh masih angan-angan atau mimpi elok untuk bersatu.

Di awal tahun 2020 ada kacau tangan menteri yang berharap mampu sebagai pemersatu, ternyata jawabannya pelik. Mengapa demikian, mungkin karena Advokat adalah ahli hukum sehingga hasilnya tidak pernah eksakta, 1+1 bukanlah 2 tapi bisa 11 atau lebih, dengan segala kemungkinannya, lulus bagaimana bisa mengurus orang lain, lembaga sendirinya pun tak mampu, sampai kapan adanya introspeksi muncul dari masing2 advokat, dimana tidak hanya butuh kepintaran tapi kemaluan hati nurani, selain itu dengan paling penting adalah tanggungjawab pada para advokat baru untuk menjadikan Advokat nobile officio.

Jangan sampai kalimat seorang mantan Ketua Mahkamah Agung yang membuktikan akan terseleksi oleh Alam, belakangan menjadi bumerang bagi Advokat tersebut sendiri maupun OA nya, karena akan bosan sendiri kalau tak punya uang untuk perputaran roda organisasi dan anggota sedikit jadi tidak ada kegiatan, mau berbaur malu tapi bubar pun tidak mau akhirnya mati suri.

Mari kita lakukan bersama-sama kepada para Advokat Indonesia khususnya Peradi untuk melakukan Refleksi Simpulan Tahun 2020 Quo Vadis Diskusi Indonesia??? Semoga tahun 2021 yang mana Pandemi Covid 19 berangsur-angsur lenyap ditelan oleh Vaksin yang cukup dipersiapkan, sama halnya dengan OA yang ada berangsur-angsur dengan kesadaran diri dari Advokatnya menjadi balik berupaya membangun OA kembali menjelma satu yaitu Peradi dengan segala metode bersatu mungkin sama halnya dengan mendapatkan Vaksin OA single Bar. Refleksi Akhir Tahun 2020 Quo Vadis Advokat Indonesia Bersepakat kita teguh bercerai kita jangan tempuh.