September 21, 2021

Obat Covid Hidroksiklorokuin dan Klorokuin Dicabut, Ini Alasannya

Obat Covid Hidroksiklorokuin dan Klorokuin Dicabut, Ini Alasannya

Akuratnews. com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencabut darurat penggunaan Hidroksiklorokuin serta Klorokuin dalam penanganan Covid-19.

Dari hasil pemantauan BPOM bersama Tim Ahli, yang kemudian dibahas bersama 5 (lima) Pola Profesi Kesehatan, PDPI, PERKI, PAPDI, PERDATIN dan IDAI serta Perhimpunan Dokter Spesialis Farmakologi Klinik Indonesia (PERDAFKI) terkait aspek keamanan hidroksiklorokuin dan klorokuin, menunjukkan bahwa penerapan hidroksiklorokuin dan klorokuin pada pengobatan COVID-19 memiliki risiko yang lebih besar daripada manfaatnya.

Pada akhir Oktober 2020, Pranata POM menerima laporan keamanan penggunaan hidroksiklorokuin dan klorokuin dari hasil penelitian observasional selama 4 bulan di 7 (tujuh) rumah kecil di Indonesia.

Informasi tersebut menunjukkan dari 213 urusan yang mendapatkan hidroksiklorokuin atau klorokuin diketahui 28. 2% terjadi gangguan ritme jantung berupa perpanjangan selang QT.

Berdasarkan hasil studi klinik global dan petunjuk penelitian di Indonesia serta menimbang risiko yang lebih besar daripada manfaat kedua obat ini, oleh karena itu dalam rangka kehati-hatian, Badan POM RI mencabut persetujuan penggunaan perlu (Emergency Use Authorization/EUA) hidroksiklorokuin dan klorokuin untuk pengobatan COVID-19.

Sebelumnya, United States Food and Drug Administration (US-FDA) sudah mencabut EUA untuk klorokuin serta hidroksiklorokuin. Disusul oleh World Health Organization (WHO) yang menghentikan tes klinik (Solidarity Trial) hidroksiklorokuin sebab dinilai memiliki risiko lebih mulia daripada manfaatnya.

Dengan demikian, obat yang mengandung hidroksiklorokuin dan klorokuin agar tidak dimanfaatkan lagi dalam pengobatan COVID-19 dalam Indonesia. Izin edar obat dengan mengandung hidroksiklorokuin dengan indikasi selain pengobatan COVID-19 masih tetap benar dan dapat digunakan untuk pengobatan sesuai dengan indikasi yang disetujui pada izin edarnya.

Sedangkan untuk obat yang menyimpan klorokuin dicabut izin edarnya sebab tidak digunakan untuk indikasi asing.

Badan POM tetap memantau dan menindaklanjuti, serta melayani pembaruan informasi dengan berkomunikasi secara profesi kesehatan terkait berdasarkan keterangan terkini di Indonesia, informasi dari WHO, dan Badan Otoritas Obat negara lain.