September 21, 2021

Meningkat Saat Pandemi, Pelanggan GrabFood Didominasi Gen Z

AKURATNEWS kacau Pandemi Covid-19 mempercepat proses adopsi servis digital dalam kehidupan sehari-hari terutama pada generasi Z (Gen Z).

Gen Z adalah dengan lahir pada akhir 1990 hingga awal 2010-an. Sebesar ahli demografi, pemasaran, serta budaya merumuskan, generasi ini dibentuk oleh mereka dengan lahir pada 1997-2012.

Generasi ini ialah ‘adik’ dari generasi milenial yang menjadi buah meng dalam wacana sosial & budaya selama ini. Dibanding kakaknya, generasi ‘digital native’ ini dinilai lebih membekukan diri, berperilaku baik serta menghindari risiko.

Karakteristik generasi yang khas ini menarik banyak kalangan untuk menelitinya, termasuk dalam Indonesia. Menurut sensus Awak Pusat Statistik (BPS), generasi Z merupakan segmen terbesar di Indonesia yang mencakup 27, 94 persen sejak total penduduk.

Yang terbaru, lembaga pengkajian Katadata Insight Center (KIC) mengeksplorasi preferensi mereka dalam layanan digital yang mencakup belanja online, layanan pesan-antar makanan (food delivery), & layanan pengantaran sembako (online grocery) dalam survei dengan dilakukan di Jabodetabek dan tujuh kota besar yang lain.

Survei tersebut mengungkapkan 50 persen tingkatan Z memilih GrabFood jadi penyedia layanan pesan-antar makanan yang paling sering mereka gunakan dalam 3 bulan terakhir, disusul GoFood (46 persen), ShopeeFood (3 persen), dan Maximfood (kurang sejak 1 persen).

Sebanyak 50 persen responden mengatakan, mereka telah menggunakan layanan pengiriman makanan online. Alasan mereka menggunakan layanan ini antara lain positif, tidak sempat memasak & bosan dengan makanan rumahan.

“Menariknya, survei menemukan bahwa 44 persen pengguna pengantaran makanan dalam Gen Z adalah pemakai baru yang baru tiba menggunakan layanan ini selama pandemi, dan 90 obat jerih dari mereka menyatakan bahwa mereka ingin untuk tetap menggunakan layanan pengiriman sasaran setelah pandemi, ” kata Stevanny Limuria, Head of Research KIC, saat peluncuran hasil riset ini beberapa waktu lalu.

Responden yang memilih GrabFood sebagai penyedia layanan pesan-antar pilihan mereka menyatakan bahwa kemudahan penggunaan aplikasi jadi salah satu alasan utama. Faktor lain yang dipertimbangkan adalah metode pembayaran & jenis pilihan makanan.

“Survei ini menyoroti pola konsumsi layanan digital di kalangan Generasi Z. Kami fokus pada mereka karena mereka lahir serta besar di tengah kurun teknologi yang berkembang cepat, dengan lahirnya media sosial dan internet. Selain mewakili sebagian besar penduduk Indonesia, mereka juga memiliki daya beli yang cukup tinggi, ” lanjut Stevanny perkara latar belakang penelitian ini.

Geni, seorang ahli yang bekerja di sebuah perusahaan konsultan media yang sempat diwawancarai mengaku sudah sangat terbiasa menggunakan servis transportasi dan pengantaran makanan online seperti GrabFood. Tetapi, sejak pandemi ia serupa mulai menggunakan layanan belanja harian (grocery) dan e-commerce untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena alasan praktis.

Survei ini dilakukan secara online terhadap satu. 146 responden antara 13-18 April 2021 dan melibatkan responden berusia 18-29 tahun dari Jabodetabek, Surabaya, Daerah, Bandung, Makassar, Semarang, Denpasar dan Yogyakarta. Sebanyak 82 persen respondennya berusia 18-26 tahun.

Biji pasar atau Gross Merchandise Value (GMV) layanan pesan-antar makanan di Indonesia diprediksi mencapai USD3, 7 miliar pada 2020 dan tertinggi dibanding tetangganya, yakni Thailand (USD2, 8 miliar), Singapura (USD2, 4 miliar), Filipina (USD1, 2 miliar) dan Malaysia (USD1, 1 miliar).

Angka-angka itu didapat dari penelitian ventura asal Singapura, Momentum Works, yang meluncurkan hasil penelitian pada awal tahun itu. Dari riset ini, Grab menjadi pemimpin pangsa rekan dengan 53 persen di Indonesia.

“Selain kenaikan pengguna baru online shopping, food delivery, & online grocery, survei tersebut menangkap keinginan para pemakai baru layanan digital buat melanjutkannya setelah pandemi berlalu, ” tutup Stevanny.