October 22, 2021

Kewajiban Rapid Test Paradoks, Sekretaris Satgas Covid-19 MUI Pertanyakan Anggaran

Kewajiban Rapid Test Paradoks, Sekretaris Satgas Covid-19 MUI Pertanyakan Anggaran

Jakarta, Akuratnews. com semrawut Anggaran ratusan triliun rupiah yang digunakan untuk pengerjaan pandemi virus Corona (Covid-19) semakin santer dipertanyakan efektivitas penggunaannya.

Anggaran yang jumlahnya besar ini terlihat ironis karena tak bisa membayar masyarakat yang ingin melakukan rapid test Corona. Rakyat masih dipungut biaya untuk tes, padahal pandemi ini sudah dinyatakan sebagai darurat nasional.

Pertanyaan ini dilayangkan Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis. Ia meluluskan contoh, para santri yang akan kembali ke pesantren diwajibkan rapid test dengan biaya sendiri. Begitu pula bagi yang hendak kabur ke luar daerah.

Biaya tes yang mencapai ratusan ribu rupiah ini akhirnya menjelma persoalan santri dan orangtuanya.

“Kemana ya uang Rp405 T yg sekarang naik Rp667, 2 T. Ini anak-anak santri mau balik ke pesantren harus rapid tes masih bayar. Bener nih, serius nanya kemana uang kita sebanyak itu ya? ” ujar Cholil dalam akun Facebook-nya.

Hal ini serupa dialami anaknya saat hendak meninggalkan ke Malang, Jawa Timur pasar lalu saat hendak menghadiri keluron sekolah dan harus mengeluarkan Rp400 ribu untuk rapid test.

“Kalau orang mau ulangan saja disuruh bayar, sementara taksiran kita banyak, apakah ini tidak lebih urgen dibandingkan lainnya? Kalau orang tidak tes, dikejar-kejar (untuk) disuruh tes. Sementara orang bakal tes (malah) disuruh bayar. Tersebut kan paradoks sebenarnya, ” tinggi Cholil yang juga Sekretaris Satgas Covid-19 MUI ini.

Karena memang sudah ada taksiran yang cukup besar inilah, dirinya menyarankan pemerintah agar memudahkan mereka yang ingin melakukan rapid test. Sehingga bisa dieliminir penularan pagebluk Covid-19 ini.

Terlebih lagi, Kementerian Keuangan juga telah menyetujui usulan dari Kementerian Petunjuk senilai Rp2, 3 triliun buat Bantunan Operasional Pesantren (BOP) dan mendukung pembelajaran jarak jauh selama masa pandemi virus Corona.

“Orang ke pesantren disuruh rapid test. Bagus kalau tersedia kesadaran, kalau nggak? Dia langsung masuk kan lebih berbahaya. Sepatutnya digratiskan bagi seluruh santri dibanding semua zona, ” pungkasnya.