October 22, 2021

Kalangan Guru Angkat Suara Soal Siswi Bunuh Diri Karena Belajar Online

Kalangan Guru Angkat Suara Soal Siswi Bunuh Diri Karena Belajar Online

Jakarta, Akuratnews. com – Kejadian pati padam diri yang menimpa seorang siswi diduga akibat depresi tugas dalam belajar online di Gowa, Sulawesi Barat, ditanggapi berbeda oleh beberapa kalangan guru.

Hal ini diutarakan sebab Aan Harinurdin (43), Guru Fisika dari MAN 3 Jakarta Pusat. Menurutnya sangat tidak mungkin cuma karena banyaknya tugas online bisa mengakibatkan bunuh diri.

“Menurut saya sebagai pendidik, sangat tidak mungkin tingkat kestressan anak apalagi PJJ ( belajar online)dengan tugas-tugasnya, bisa berakibat keputusan bunuh diri, pasti sangat tidak kira-kira, “ujarnya saat akuratnews wawancarai menggunakan pesan singkat pada selasa, (20/10)

Aan menambahkan kalau keputusan bunuh diri tersebut, kausa faktor eksternal yang tidak bisa diantisipasi kalangan dekat korban misal keluarga dan kawan dekat.

“Mungkin (penyebabnya) pertama sebab kondisi broken home (masalah internal keluarga) serta kedua kondisi percampuran (bisa sesama lingkungan masyarakat ataupun teman sekolahnya), “imbuhnya yang selalu menjabat sebagai wakil kepala tempat kesiswaan di lembaganya.

Ia pun memberikan beberapa arahan kepada stakeholder dalam hal ini kemdikbud untuk pembelajaran daring yang lebih baik kedepannya dintaranya tidak menyeragamkan kebijakan di setiap kawasan.

“Masalah PJJ kudu berbasis daerah solusinya, tidak bisa diberlakukan seragam dan Untuk wilayah yang PAD nya kurang, dan sarana teknologi minim, maka diperlukan terobosan se tingkat kecamatan buat memonitoring keberlangsungan pembelajaran dengan menghasilkan pemetaan masalah dan solusinya, tak boleh hanya sekolah dan orangtua yg mencari solusinya, “tuturnya

Sementara saran untuk pembelajaran di kota – kota gede, Aan menjelaskan bahwa pembelajaran pada kota besar sudah cukup cara dan hanya perlu ditingkatkan pada hal monitoring dan evaluasi.

“Untuk di kota mulia, sepertinya PJJ sudah berlangsung pas baik, hanya perlu monitoring serta evaluasi keberlangsungan PJJ se-tingkat kecamatan, agar dipastikan terpenuhinya standar sedikitnya kompetensi siswa, “terangnya.

Aan juga menekankan pemberian otonomi yang seluas-luasnya kepada satuan pelajaran mengingat perbedaan karakteristik antar sekolah.

“Mengenai regulasi, sepantasnya diberikan otonomi se-tingkat satuan pelajaran agar dapat melaksanakan proses & evaluasi pembelajaran sesuai dengan istimewa dari lingkungannya, tidak diperbandingkan dengan indikator yang seragam dengan sekolah lainnya, “pungkasnya.