August 3, 2021

Energy Indonesia Melimpah, Kenapa Harus Garib?

Energy Indonesia Melimpah, Kenapa Harus Garib?

Oleh: DR. Etty Susilowati, SE. MM

Direktur Utama PT Jasa Tirta Energi

Akuratnews. com – Satu dua bulan yang awut-awutan, masyarakat digemparkan dengan tagihan elektrik yang cukup signifikan. Bagaimana tak? Tagihan yang harus dibayarkan sebab para pelanggan nilainya cukup pantastis. Kenaikan yang terjadi bisa menyentuh puluhan juta rupiah bagi di setiap pelanggan. Menjadi tanda Tanya tumbuh di tengah melimpahnya energy kawasan yang dimiliki oleh Indonesia, harus dibayar mahal oleh masyarakatnya sendiri. Dari Sabang sampai Merauke, Tuhan Yang Maha Esa, telah menyampaikan Indonesia beragam kebutuhan yang ada di Alam.

Kiranya merugi hingga triliunan rupiah, Covid-19 menjadi sasaran atas meruginya PLN yang diketahui menjadi salah satu penyedia energy yang dipahami jadi energy listrik oleh masyarakat merata. Tak tanggung-tanggung kerugian yang diklaim oleh PLN, sekitar Rp 38 Triliun PLN harus menanggung kesusahan, hal ini diungkapkan saat kerap kerja dengan Komisi VII DPR RI beberapa waktu yang berserakan.

Luasnya potensi energy di Nusantara seharusnya energy bukanlah menjadi permasalahan yang rumit. Penampakan permukaan alam Indonesia yang berisi diri perairan dan daratan berbanding antara 4: 1. Penampakan tanah berupa gunung tertinggi, sungai terpanjang di Indonesia, danau membuat Indonesia menjadi negara ke 15 terluas di dunia. Indonesia termasuk negara kepulauan yang berada pada situasi strategis yang digambarkan dari kedudukan geografis dan letak astronomis Nusantara.

Robert Kaplan menyuarakan bahwa geografi secara luas mau menjadi determinan yang mempengaruhi bervariasi peristiwa lebih dari pada dengan pernah terjadi sebelumnya (Foreign Policy, May/June, 09). Di masa yang akan datang, keberadaan Indonesia hendak dipengaruhi oleh kondisi dan letak geografisnya. Maka tata kelola sumber daya alam, wilayah perbatasan dan pertahanan yang mumpuni sangat diperlukan.

Dengan beragamnya Sumber daya alam yang ada, sesuai Sungai, Laut, Angin dan Matahari, Indonesia memiliki potensi yang pas besar untuk mengembangkan sektor energy khususnya bagi masyarakatnya sendiri. Bahkan, Kalimantan yang digadang-gadang sebagai ibukota baru memiliki potensi energy yang cukup besar. Pulau Kalimantan memiliki luas 743. 330 km², dengan titik koordinat 4° 24` LU – 4° 10` LS serta antara 108° 30` BT porakporanda 119° 00` BT. Dimana posisi alamnya meliputi Laut, Pantai Biduk-Biduk, Pantai Angsana, Pantai Melawai, Miring Benua Putra dan pantai Miring Lamaru, dilengkapi oleh sungai-sungai jarang lain, Sungai Mahakam, Sungai Barito, Sungai Kapuas, Sungai Melawi, dan Sungai Arut.

Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar antaralain, mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomass 50 GW, energi surya 4, 80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW. Di mana, masa ini pengembangan EBT mengacu kepada Perpres No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Di Perpres disebutkan kontribusi EBT di bauran energi primer nasional di tahun 2025 adalah sebesar 17% dengan komposisi Bahan Bakar Nabati sebesar 5%, Panas Bumi 5%, Biomasa, Nuklir, Air, Surya, serta Angin 5%, serta batubara yang dicairkan sebesar 2%. Untuk tersebut langkah-langkah yang akan diambil Pemerintah adalah menambah kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Mikro Hidro menjadi 2, 846 MW pada tahun 2025, kapasitas terpasang Biomasa 180 MW pada tahun 2020, kapasitas terpasang angin (PLT Bayu) sebesar 0, 97 GW pada tahun 2025, surya 0, 87 GW di dalam tahun 2024, dan nuklir 4, 2 GW pada tahun 2024.

Demi mendayagunakan energy yang dimiliki oleh alam Indonesia, tentu saja kerjasama dapat dikerjakan dengan Pemerintah Daerah untuk memudahkan tanggung jawab pengelolaannya. Bagi pemerintah wilayah keuntungan yang dapat dikelola & bisa dikembangkan antara lain, Biomasa, Energi Angin, Energi Surya, Gaya Nuklir dan Mikrohidro.

Dapat dibayangkan Total investasi yang diserap pengembangan EBT sampai tahun 2025 diproyeksikan sebesar 13, 197 juta USD. Dimana, Keuntungan Energi Baru Terbarukan ini adalah Santun lingkungan, Investigasi teknologi, Mudah dikembangkan, Mengurangi sampah dan yang bertambah penting akan meningkatkan peluang gaya kerja baru, tentu saja kejadian ini akan sangat berdampak khususnya daerah-daerah berkembang.

Namun, bukan tanpa kendala, penerapan energy terbarukan terbentur kepada regulasi dengan dinilai kerap berubah-ubah menjadi tantangan pengembangan energi baru terbarukan dalam Indonesia. Padahal, jika kita ingin tilik lebih dalam memiliki makna yang cukup banyak, khususnya bagi Pemerintah Daerah yaitu: Meningkatkan perkenomian daerah, Meningkatkan kesejahteraan masyarakat & Meningkatkan akses energi kepada umum langsung.

Pemerintah langsung berupaya melaksanakan percepatan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) agar sanggup mencapai target 23% energi gres terbarukan (EBT) pada bauran energi nasional tahun 2025 sebagaimana titah Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Strategi percepatan perluasan EBT untuk mencapai target ambisius pada tahun 2025 yang dilakukan pemerintah, yaitu:

  • Mendorong peningkatan kapasitas unit-unit PLT EBT yang sudah ada & proyek EBTKE yang sedang berlaku sesuai RUPTL.
  • Jalan penciptaan pasar EBT. Untuk perluasan panas bumi, diupayakan pengembangan Flores GEothermal Island, sinergi BUMN buat percepatan pengembangan panas bumi di Wilayah Kerja BUMN, dan pengembangan klaster ekonomi berbasis sumber gaya setempat dengan pembangkit listrik. Untuk pengembangan PLTA, diupayakan pengembangan rencana PLTA/M/MH utuk klaster industri mineral dan pengembangan PLTMH melalui penggunaan berbagai bendungan.
Selanjutnya 1 2