May 13, 2021

Diserang Milisi ADF, Prajurit TNI Tewas di Kongo

Diserang Milisi ADF, Prajurit TNI Tewas di Kongo

Kinshasa, Akuratnews. com – Kontak senjata antara Pasukan Perbaikan PBB di Kongo (MONUSCO) secara milisi Pasukan Demokrat Sekutu (ADF) Kongo terjadi Minggu (22/6).

Pasukan MONUSCO diserang era berpatroli sekitar 20 km dibanding kota Beni di provinsi North Kivu, Republik Demokratik Kongo.

Akibat serangan itu, Prajurit Nasional Indonesia (TNI) berduka. Salah satu prajurit terbaiknya yang tergabung di dalam pasukan itu, Sersan Mayor Rama Wahyu gugur akibat ditembak milisi ADF.

Menurut fakta yang dihimpun, Serma Rama meninggal dunia pada Selasa (23/6) kemarin setelah sempat dirawat di RS.

“Serangan yang dikerjakan unsur-unsur yang dicurigai ADF, dimana sebuah helm biru Indonesia terbunuh dan yang lainnya terluka, ” kata Kepala MONUSCO PBB, Leïla Zerrougui, Rabu (24/6).

Selain menewaskan Serma Rama, serangan milisi ADF juga menyebabkan seorang prajurit TNI lainnya yang ialah pasukan Satgas Kongo XXXIX-B RDB Monusco terluka.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres membuktikan serangan terhadap pasukan PBB mampu dianggap sebagai kejahatan perang. Tempat menyerukan otoritas Kongo segera melakukan investigasi.

“Segera bawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan. PBB akan terus menolong Pemerintahan Kongo dan rakyatnya pada upaya menciptakan perdamaian dan kemantapan di timur negara itu, ” tegas Guterres.

Badan Keamanan PBB pun menyerukan penyelidikan atas kejadian itu.

“Anggota Dewan Keamanan mengecam membengkil semua serangan dan provokasi terhadap MONUSCO. Serangan yang menargetkan penjaga perdamaian dapat dianggap kejahatan konflik sesuai hukum internasional. Otoritas Kongo harus segera menyelidiki serangan tersebut dan membawa para pelaku ke pengadilan, ” tegas pernyataan Jawatan Keamanan PBB.

Untuk diketahui, ADF berasal dari Uganda pada 1990-an, menentang pemerintahan Kepala Uganda Yoweri Museveni. ADF lalu pindah ke Kongo.

Sampai saat ini, milisi ADF telah menewaskan 15 tentara PBB di pangkalannya dekat perbatasan Uganda pada Desember 2017, 14 dari Tanzania dan tujuh orang di dalam serangan pada Desember.