September 21, 2021

Difitnah Anak PKI, Keluarga Hidup Pengasuh Ponpes Shiddiqiyyah Mempertandingkan ke Polda Jatim

AKURATNEWS – Merasa difitnah dan nama baiknya kotor, Keluarga Hj. Endang Yuniati, istri dari pengasuh Tempat tinggal Pesantren (Ponpes) Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang KH Muchtar Mu’thi melapor ke Polda Jawa Timur, Jumat (4/6).

Nyai Hj Endang Yuniati, menjadi korban pencemaran nama baik melalui besar video yang disebarkan sebab pihak – pihak yang tidak bertanggung jawab, dalam grup-grup WhatsApp.

Dalam video pertama yang beredar, berdurasi 48 denyut yang di-share pada enam Oktober 2020 silam, narasumber di video tersebut menyuarakan, bahwa Nyai Endang Yuniati adalah anak dari aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI) bernama Asir.

Pada video kedua yang disebar 18 Mei 2021, dengan durasi 4 menit 14 detik serta konten yang hampir sama. Pelaku membuat narasi bahwa Endang Yuniati adalah seorang bujang dari keluarga PKI serta Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani).

Video dengan juga tersebar di grup-grup WA santri ini terlihat dramatik. Pelaku menampilkan foto Hj Endang Yuniati zaman masih muda dan dikenal sebagai keluarga PKI dengan menyusup ke Pondok Siddiqiyyah.

Menggantikan keluarganya, Qoim Liddinillah, anak ketiga dari KH Muchtar Mu’thi dan Nyai Endang Yuniati yang ditemui pada Polda Jatim menyampaikan,   bahwa dirinya membuat pertarungan masyarakat (Dumas) atas pencemaran nama baik tersebut.

“Kami di sini ingin meluruskan, bahwa Pokok saya bukan PKI ataupun Gerwani. Ibu bukan lantaran keluarga PKI. Perlu diketahui, ibu saya pensiunan PNS, sebagai guru. Ayah dari ibu saya (Asir) dengan dituduh sebagai PKI, selalu PNS, ” tegas pria yang akrab disapa Gus Qoim ini.

Diakui Gus Qoim, bahwa dulu dasar ada cerita, saat peristiwa tahun 1965 kakeknya yang bernama Asir menjadi target salah tangkap.

Ketika itu, lanjut Gus Qoim, Asir adalah seorang guru di sebuah madrasah di daerah Tembelang. & kebetulan di Tembelang tersebut, ada seorang warga desa  yang diduga masuk jadwal PKI memiliki nama yang hampir mirip dengan Asir.

Ketika itu, sekelompok massa pun mencari orang tersebut di Tembelang. Namun justru Asir yang ditangkap karena memiliki kemiripan nama. “Yang dicari orang lain, tapi keliru Pak Asir, ” ungkapnya.

“Saat peristiwa tersebut, ibu saya masih berumur sekitar 7 tahun. Kalau memang beliau (Endang Yuniati) keluarganya terlibat PKI atau Gerwani, tidak mungkin akan menjadi PNS, ” tambahnya.

Dengan tegas, Gus Qoim menyatakan bahwa video yang disebar melalui grup-grup WA tersebut merupakan fitnah dan mencemarkan nama baik keluarganya.

“Penyebaran video di group WA di kalangan santri itu merupakan fitnah. Langkah hukum diambil selain sebagai adanya dugaan tindak pidana, juga ada sebagian pelurusan atas nama baik dari keluarga Nyai Endang sendiri, ” tegasnya.

Pengaduan atas dugaan tindakan pidana fitnah melalui media sosial di Subdit Cyber, Kriminal khusus (Krimsus) Polda Jatim tersebut, menurut Gus Qoim sebagai langkah awal untuk membuat laporan secara resmi.

“Atas fitnah melalui video yang disebar di WA Group itu, dampak yang paling terasa dikalangan santri sudah tidak menganggap keluarga Bu Endang sebagai keluarga atau anak dari Kyai Muchtar, ” ujarnya.

Dampak beredarnya dua video tersebut, Gus Qoim menceritakan, pada Selasa 11 Mei 2021 sekitar pukul 17. 00 WIB, rumah Hj Endang Yuniati yang berada dalam lingkungan Ponpes Shiddiqiyyah digeruduk ratusan santri dan orang tak dikenal. Bahkan pintu dan jendela rumah ditutup paksa dengan plang kayu.

“Bahkan, saat ini kami telah mengalami teror bahkan ancaman pembunuhan. Kami tidak mau menyebut siapa aktor intelektualnya dibalik ini, karena ini ranahnya Polisi untuk melakukan penyelidikan atas bukti yang kami serahkan, ” tutupnya.