October 22, 2021

Diberitakan Bakar Lahan untuk Perluasan Sawit, Ini Klarifikasi Korindo Grup

Diberitakan Bakar Lahan untuk Perluasan Sawit, Ini Klarifikasi Korindo Grup

Jakarta, Akuratnews. com   – Perusahaan Korindo Agregasi baru-baru ini diberitakan oleh salah satu media online di Nusantara sebagai perusahaan asing yang sengaja membakar lahan untuk perluasan tanah sawit.

Berita dengan judul lengkap, “ Papua: Investigasi ungkap perusahaan Korsel ‘sengaja’ membakar lahan buat perluasan lahan sawit ” yang dipublikasikan pada tanggal 12 November 2020, menurut pihak Korindo Grup, berita tersebut sebagai wujud tuduhan yang serius.

Karena itu perlu kiranya Korindo Grup meluruskan informasi yang sesungguhnya, terkait pemberitaan  media online  yang tidak mengacu pada cover both tersebut.

“Kami mereken hal ini merupakan tuduhan dengan serius sehingga kami perlu manyampaikan tanggapan. Perlu ditegaskan bahwasanya di dalam tahun 2015, perusahaan telah menyelenggarakan pembayaran pelepasan hak atas desa ulayat kepada 10 marga seluas 16. 000 hektar yang berada di areal PT Tunas Sawa Erma Blok E sesuai dengan perjanjian dan jumlah yang telah disepakati bersama, termasuk dengan Petrus Kinggo yang menjadi narasumber pada pemberitaan tersebut. ” Jelas informasi resmi yang dikeluarkan Korindo Perkumpulan, Jumat (13/11).

Masih menurut rilis Korindo Grup, walaupun Petrus Kinggo dan semua patokan lainnya telah menerima pembayaran ganjaran pelepasan lahan, namun pada faktanya hingga saat ini perusahaan belum pernah melakukan pembukaan lahan di seluruh areal tersebut.

“Sehingga dapat dipastikan bahwa tidak ada hak atas tanah klub yang dilanggar oleh perusahaan. (Peta terlampir). ” Tandas Korindo Perserikatan.

Informasi yang diragukan lainnya berasal dari Elisabeth Ndiwaen yang bukan merupakan perwakilan jalan yang berada di PT. Dongin Prabhawa karena yang bersangkutan berdiri dan dibesarkan di Kota Merauke yang jaraknya sangat jauh sekitar 400 km (jalan darat dan sungai) dari lokasi perkebunan.

“Merespon aspirasi masyarakat pada areal operational PT. Dongin Prabhawa yang menginginkan adanya perubahan, pembangunan, dan kesejahteraan hidup, maka sejak awal perusahaan dan masyarakat bersama-sama terus menjalin komunikasi yang elok dan membuat kesepakatan, seperti kesepakatan pembayaran hak ulayat kepada 8 marga di tahun 2011, dilanjutkan dengan kesepakatan program pembinaan kelompok, serta dicapainya kesepakatan pembayaran simpanan pengembangan kampung sebesar Rp 30 miliar pada tahun 2012. Maka saat ini perusahaan terus merealisasikan kesepakatan-kesepakatan tersebut. ” Lanjut Korindo Grup.

Namun sebagai bentuk komitmen terhadap transparansi, Korindo Grup akan melakukan investigasi terhadap kedua isu di atas secara mendalam dan melibatkan para pihak terkait.

“Proses penyelidikan ini dimasukkan kedalam Sistem Penanganan Keluhan (Grievance System) Korindo. ”

Sementara itu terkait dengan adanya tuduhan pembakaran hutan dalam periode tahun 2011-2016, Korindo Grup menandaskan bahwa pihaknya perlu menjelaskan kembali pernyataan The Forest Stewardship Council (FSC) pada Agustus 2019 lalu yang menyatakan bahwa pihak FSC telah melakukan investigasi di lapangan pada Desember 2017.

“Hasil kesimpulan penyelidikan tersebut menyatakan tuduhan bahwa Korindo dengan sengaja dan ilegal membakar areal perkebunan adalah tidak benar. Temuan FSC tersebut memperkuat buatan investigasi yang sebelumnya telah dilakukan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Merauke dengan Nomor Tulisan 522. 2/0983 tertanggal 24 Agustus 2016 yang menyatakan bahwa prakata lahan dilakukan secara mekanis dan tanpa bakar. Selain kedua buatan investigasi tersebut, terdapat juga surat dari Direktorat Jenderal Penegakkan Lembaga Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementerian LHK RI Nomor S. 43/PHLHK/PPH/GKM. 2/2/2017 tanggal 17 Februari 2017 yang menyatakan bahwa anak perusahaan Korindo Group yang bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit tak melakukan illegal deforestation dan sudah memperoleh izin pelepasan kawasan hutan dari Menteri LHK. ” Tinggi Korindo Grup.

“Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa isu yang tercantum dalam berita terpaut, tidak benar adanya. Korindo Group selalu mengutamakan transparansi, kebijakan dengan mendukung masyarakat, dan selalu setia akan hukum yang berlaku dalam Republik Indonesia. ”

Untuk diketahui, Korindo Group adalah perusahaan yang telah berdiri di Indonesia sejak tahun 1969 & konsisten berkontribusi dalam membantu perkembangan dan kemajuan rakyat Indonesia, khususnya di daerah Papua.

Hal ini terwujud nyata pada beragam aksi, kegiatan, serta kemudahan yang telah perusahaan berikan buat mempermudah kehidupan masyarakat pedalaman. Terekam hingga saat ini, Korindo Group telah mendedikasikan sebanyak $14, 000, 000 (periode tahun 2014—2019) demi kontribusi sosial dalam segala bidang di Papua.

Dari sisi pendidikan, Korindo Group telah menjalankan beragam program beasiswa sebesar 431 anak pemilik hak ulayat, membantu pembangunan 42 unit madrasah, bantuan honor untuk 170 pengasuh, serta bantuan 14 unit bus sekolah dan asrama bagi para siswa pedalaman.

Perusahaan juga berkontribusi di bidang infrastruktur, dengan cara membangun dan merawat jalan dan jembatan (akses publik) sepanjang 500 km, membangun 18 rumah ibadah, menyediakan 10 pasar tradisional, memberikan akses air suci bagi masyarakat, bahkan memberikan akses listrik sebesar 8 MW secara gratis untuk warga yang berkecukupan di sekitar areal perusahaan.

Dari segi kesehatan, semenjak menyebarnya wabah Covid-19 di Nusantara, Korindo Group telah mendonasikan 120, 000 masker medis dan multivitamin, 3. 500 set baju hazmat, ratusan boks bantuan sembako, apalagi kompor untuk memasak.

Tak hanya itu, Korindo Group telah membangun sebanyak 7 klinik dan 1 rumah sakit pada Papua dengan rata-rata jumlah anak obat yang telah diobati secara percuma sebanyak 9. 000 orang per bulan.

Klinik Asiki milik Korindo Group bahkan lulus dinobatkan oleh BPJS Kesehatan sebagai Klinik Terbaik Tingkat Provinsi Papua pada tahun 2017. Klinik tersebut bahkan mendapat pujian melalui pengerjaan sigap dan fasilitasnya yang setara dengan klinik di kota tumbuh. Predikat ini disandang Klinik Asiki selama dua tahun berturut-turut.

Terlebih lagi pada tarikh 2018 lalu, Korindo Group melalaikan PT Tunas Sawa Erma (TSE) menerima penghargaan dari Padmamitra Award 2018 untuk kategori Penanganan Kesendirian.

Padmamitra Award ini merupakan penghargaan tertinggi yang dikasih oleh negara kepada dunia daya atas kontribusi dan perhatiannya pada kondisi sosial masyarakat. Penilaian untuk performa penerima penghargaan dilakukan tepat oleh Kementerian Sosial Indonesia bergabung dengan Forum CSR Kesejahteraan Sosial. ***