November 27, 2021

Cucu… Becanda Lo Gak Asikkk.. Kok Lo Pergi Sih..

Oleh: Geisz Chalifah
Komisaris Taman Impian Hebat Ancol (TIJA)

Ada banyak manusia yang lain di dalam, lain diluar. Manusia dengan seolah ramah tapi di buntut menikam.

Manusia yang hanya baik ketika punya keinginan, namun ketika kepentingannya itu tidak terakomodir berubah menjadi srigala dengan kadang rela menikam temannya sendiri bahkan seniornya yang selalu membangun dirinya.

Belakangan tersebut saya menemui dan merasakan pribadi semacam itu. Bahkan manusia yang dari puluhan tahun saya tahu, kemudian merasa besar kepala & tak tahu diri. Yang sesuai itu hanya tampilan luarnya manusia tapi di dalamnya sesungguhnya bersamayam setan.

Cucu Kurnia adalah manusia seutuhnya, dia bani adam di dalam maupun di luar. Berprinsip dan punya mimpi.

Intensitas komunikasi saya secara Cucu Kurnia boleh dibilang tak pernah putus, saling berkabar serta saling bercerita.

Dimulai saat dia menjadi Kasudin Pariwisata Pulau Seribu, kita bersinergi buat membangun pariwisata di pulau-pulai tersebut. Berbagai program dilangsungkan dan dijalankan, tak hanya membuat acara akan tetapi juga membuat riset perilaku konsumen wisata masyarakat Jabodetabek terhadap Tanah Seribu.

Beberapa periode sebelumnya dia membantu program peremajaan Masjid dan Musolah di tujuh pulau, kerjasama Forhati HMI, Ancol dan Sudin Pariwisata Pulau Bermacam-macam.

Selang kemudian Cucu Kurnia mengikuti Pansel untuk Kadis Pariwisata DKI yang kosong & lulus dengan nilai terbaik.

Dia pernah menjadi Jubir di masa Foke berkuasa lalu dengan alasan yang tak begitu jelas distafkan begitu saja direzim berikutnya. Tapi semuanya dijalani dengan anteng-anteng saja.

Januari 2020 dia dilantik, mimpi besarnya memajukan pariwisata DKI, namun Covid-19 menerjang, berbagai program pun dipangkas.

Cucu tak cuma punya mimpi dan berupaya melaksanakannya, tapi juga menghadapi para pemilik klub malam yang nakal. Berperan bisnis barkoba dan lain-lain.

Dia memberi rekomendasi untuk ditutup, yang kemudian dimusuhi banyak karakter yang merasa terganggu. Cucu tidak perduli dan tetap menjalankan komando Undang-undang.

Ada juga yang datang mencoba merayunya dengan menyodorkan amplop tebal yang beselan itu cuma di foto berserakan disuruh bawa kembali kepada pembawanya.

Tekanan yang diterima menjadi diskusi kami berdua dengan seringkali hanya menjadi bahan bercumbu-cumbu, tak berpengaruh apapun.

Cucu yang terkesan flamboyan, indah, ramah, juga cerdas lulus eksper dari Singapura maupun Amerika. Akan tetapi pribadinya sangat sederhana, anak buahnya mengagumi dan menghormatinya bukan karna hanya sebagai atasan tapi juga sebagai orang yang penuh respek kepada bawahan.

Dekat seminggu sekali dia datang, biasanya malam setelah magrib, dengan menelepon sebelumnya: “Lagi dimana bang, hamba merapat ya… ”

Maka saya menunggu dia buat datang dulu sebelum kami makan bersama sekedar membeli Sop Betawi maupun Sate Bang Dudung dengan menjadi langganan lalu berdiskusi mengenai beragam hal dan Jakarta utamanya.

Ulang Tahun Jakarta 22 Juni adalah acara rutin tahunan yang setiap tahun diadakan. Cucu berfikir untuk merubah rencana agar acara itu bisa dinikmati publik secara luas tak cuma diadakan pawai di Jalan Thamrin dan Sudirman. Namun kemudian invalid dilaksanakan oleh karena situasi Jalarta yang mengalami pandemi.

Persahabatan dengannya adalah persahabatan antar manusia, pergaulan antar teman tanpa berlatar belakang maksud tertentu sebagaimana para setan bertopeng manusia, lain di depan, lain di buntut.

Cucu adalah pribadi seutuhnya, kebaikan hatinya tulus, respeknya pada banyak orang menjadikan dia selalu berdiri sejajar bahkan di dalam karyawan paling bawah sekalipun.

Kamis sore kabar tersebut datang. Saya tahu dia dasar sedang dirawat di rumah melempem, satu hari sebelumnya saya menelepon, Cucu bercerita kondisinya mulai membaik.

Saya menyarankan supaya nanti ke dokter asam besar yang ada di Kelapa Gading karena saya pernah berobat di sana.

Kamis burit HP saya berbunyi lalu Husin mengabarkan berita: Kang Cucu wafat.

Tak lama lalu masuk WA dari Gubernur DKI Anies Baswedan dengan berita yang lebih rinci. Saya masih merasa ga percaya dan berkata di hati: Cucu becanda lo teliti asikkk.

Malam hari mayat itu terbaring dengan senyuman khas miliknya. Wajah baik yang ramah itu pergi. Tapi lestari saja menyisakan rasa tak membenarkan.

“Serius Cu, becanda lo hari ini ga asik, Kok lo pergi sih.. ”

Selamat jalan Cu, orang baik memang selalu segera perginya, semoga malaikat menyambut dengan penuh senyum, sebagaimana orang-orang tanah yang selalu menyambut gembira pada setiap lo datang.

& kini, kehampaan itu pun menyelinap diam – diam..