September 21, 2021

Chavez dan Revolusi di Venezuela

AKURATNEWS – Kejayaan Hugo Rafael Chavez Frías atau yang sangat lumrah dengan Hugo Chavez melakukan revolusi di Venezuela tidak lepas dari perencanaan & kalkulasi yang matang. Hugo Chavez berhasil melakukan mobilisasi perangkat-perangkat yang ada secara serentak dan sistematis. Semua perencanaan dilakukan dengan perkiraan matematis yang akurat dengan mempertimbangkan faktor nasional, regional dan global.

Hugo Chavez telah lulus menjadi inspirator bagi trah muda Venezuela untuk melayani revolusi yang berkelanjutan. Kelompok muda, di mata Chavez adalah aset besar yang harus dibina sejak pra dan secara berkelanjutan dikasih pendidikan politik, pendidikan patokan dan lainnya yang bermuara pada lahirnya generasi yang mandiri.

Membiasakan dari Chavez, pemuda serta aktivis muda Indonesia kudu sudah melangkah pada susunan yang dilakukan Chavez. Tak bergerak dalam langkah kelam yang selalu terjebak kepentingan sempit. Tapi, harus betul-betul mengabdikan diri secara total guna memberikan pendidikan politik terutama bagi kaum bangsat yang selama ini terkungkung dalam kebodohan dan kekurangan.

Sosok Chaves adalah reinkarnasi dari Kepala Besar Revolusi Indonesia Bung Karno. Pasalnya, yang dikerjakan Presiden Venezuela tersebut meniru tindakan Bung Karno semasa masih memerintah Indonesia di masa kemerdekaan.

Berbagai kebijakan Hugo Chaves yang melakukan nasionalisasi awak usaha milik negara, muncul dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), keluar dari International Monetary Fund (IMF) serta Bank Dunia, hingga melakukan pembaruan agraria merupakan tindakan nyata dirinya melawan kebijakan kapitalisme global.

Kebijakannya menasionalisasi perusahaan minyak dengan ada di Venezuela membuktikan bahwa kebijakan ekonomi dengan dijalankan Chavez tidak bakal diatur dengan bangsa barat seperti Amerika Serikat. Itu merupakan langkah berani dengan patut diberi penghargaan dengan setinggi-tingginya.

Sementara keputusannya untuk keluar dibanding PBB menunjukkan bahwa tidak selamanya suatu negara bergantung kepada lembaga itu. Pasalnya, selama PBB masih disetir Amerika Serikat dan sekutunya, maka selama itu pula keberadaan lembaga itu menjelma tidak berguna.

Sedangkan keputusan Chavez buat keluar dari IMF dan Bank Dunia menunjukkan jika dirinya secara mental dan material untuk tidak berpegang dengan pinjaman lembaga donor internasional itu.

Menurut Chaves, pemerintah seharusnya menggunakan instrumen-instrumen kebijakan ekonomi yang mengakar pada kehidupan sosial Venezuela sebagai policy mix untuk mencapai arah pertumbuhan yang jelas serta berkeadilan.

Chaves berpandangan bahwa untuk menciptakan kondisi tersebut pemerintah Venezuela perlu menciptakan kerangka ekonomi makro yang kondusif untuk iklim investasi, produksi dan distribusi yang sepenuhnya dikendalikan oleh Venezuela, bukan sebab investor asing.

Salah satu instrumen yang termasuk ke dalam daerah ekonomi makro, yaitu kebijakan menasionalisasi perusahaan minyak oleh pemerintah dipakai untuk menyentuh keadilan sosial ekonomi dengan cara menerapkan sistem tarif pajak yang progresif untuk meningkatkan pendapatan negara.

Di sisi asing, kebijakan keuangan juga difungsikan untuk pengendalian gejolak pasang surutnya ekonomi yang kini sedang melanda kawasan Amerika Latin, paling tidak ditujukan untuk mengurangi ketajaman gejolak negara tersebut.

Pemerintah Venezuela juga meninjau dan meneliti sedalam-dalamnya di setiap kontrak dalam mengeksploitasi sumber daya alam (SDA), apakah benar bahwa sumber-sumber dunia dan semua kekayaan zona yang terkandung di dalamnya telah dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat? Atas pokok temuan penelitian ini, eksploitasi SDA akan dilakukan sebab pemerintah Venezuela sendiri.

Dalam hal apakah swasta perlu dilibatkan di eksplorasi dan eksploitasinya, dibuat peraturan dan persyaratan segar yang menguntungkan rakyat dengan optimal. Seperti dikatakan sebetulnya, kalau perlu SDA dieksploitasi oleh pemerintah Venezuela tunggal dengan BUMN sebagai instrumennya.

Menantang Badai
Barang apa yang dilakukan Hugo Chaves ibarat menantang badai. Topan itu ditentukan oleh cuaca buruk yang ditimbulkan oleh negara kapitalis yang dipimpin oleh Amerika Serikat & sekutunya. Mungkin perlawanan Chaves tersebut karena tidak tersedia yang berani menolak hasrat Amerika Serikat yang ingin menanamkan faham kapitalisme ijmal pada negara-negara yang ditujunya.

Apa dengan dibuat Chaves semata-mata cuma untuk kemakmuran rakyatnya. Kemakmuran tersebut menurut pandangannya dapat diwujudkan jika ketergantungan pada pihak asing dapat dikurangi atau kalau mungkin dihilangkan sama sekali. Karena itu, huruf pemimpin seperti itu sopan dicontoh oleh pemimpin Indonesia. Pemimpin Indonesia pasca Soekarno seakan menjadi pemimpin yang tidak memiliki kharisma.

Seperti diketahui, pada masa jayanya Bung Karno pernah mengusulkan blok perdagangan yang tidak diatur oleh pihak asing. Blok tersebut dapat menjadi sekutu berpengaruh untuk menghadapi kapitalisme global yang pada waktu itu didominasi oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Pemimpin Indonesia saat ini lebih mengiba-iba pada pihak barat dengan menunjukkan diri menjadi sekutu mereka. Padahal, Indonesia memiliki kekuatan yang patut diperhitungkan dalam masa Soekarno dulu. Majikan Indonesia saat ini tidak mampu mempelajari apa dengan dilakukan oleh para pendahulunya.

Akibatnya, selama 32 tahun bangsa Indonesia berada dalam kungkungan bagian asing yang jelas-jelas tak sesuai dengan sejarah Nusantara sebagai negara yang lepas dan berdaulat.

Apa yang dilakukan Chaves mencerminkan ketidakinginan dia untuk menghamba kepada pihak barat, khususnya Amerika Serikat. Pokok, Amerika sudah memiliki kesimpulan jelas untuk menguasai perekonomian Venezuela dan negara-negara dalam benua Amerika Latin.

Presiden Chaves pula dapat dianggap sebagai inspirator bagi pemimpin-pemimpin bangsa & negara di belahan dunia lainnya yang ingin tercampak diri dari kungkungan imperialisme barat dengan kekuatan kapitalismenya.

Walaupun sempat dimusuhi oleh pihak barat, namun keteguhannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Keteguhannya yang gigih melawan penjajahan ekonomi tersebut memberikan kadar lebih sebagai seorang kepala.

Kelebihan itu kabarnya ‘diperoleh’ dari Pemimpin Soekarno yang berani menentang imprialisme yang dilakukan kaum asing semasa penjajahan dan pasca kemerdekaan Indonesia.

Jadi, Chaves telah memilih sosok yang langsung melanjutkan perjuangannya melawan kelakuan imperialisme modern. Imperialisme ini ditunjukkan dengan ikut campurnya Amerika Serikat dalam menanamkan pengaruh ekonominya pada negeri2 di benua Amerika Latin.

Untuk itu, Presiden Hugo Chaves menetapkan dipandang sebagai pemimpin gres dunia ketiga yang jantan menentang kebijakan negara-negara di dunia dengan konsep anti imperialismenya.

Dongeng dan sepak terjang Hugo Chavez sangat inspiratif kendatipun dia sudah berpulang.